Dahulu aku tak mengerti:
“Mengapa ikan begitu percaya pada air? Tetapi air merebusnya.”
“Mengapa daun begitu percaya pada angin? Tetapi angin malah meniupnya hingga jatuh.”
“Dan dulu aku begitu percaya padanya, tetapi dia tetap saja menyakitiku.”
Tetapi kalau dipikirkan baik-baik;
Yang merebus ikan bukan lah air, melainkan api.
Yang merontokkan daun bukan lah angin, melainkan musim gugur.
Yang menyakitiku juga bukan dia, melainkan perasaanku sendiri yang berlebihan dan dipenuhi harapan sepihak.
Kini, terlihat lebih jelas;
Ekspektasi adalah sejenis kekerasan halus yang sangat samar,
Pelakunya adalah diri sendiri dan korbannya pun diri sendiri.
Sebenarnya kita lah yang selalu tidak bisa membedakan; antara menuntut dari luar dan mencintai dari dalam. Lalu dengan menggunakan cara yang kita inginkan untuk dicintai kita membebankan harapan yang tidak realistis kepada orang lain.
Dalam buku “Gagal menjadi Manusia”, dikatakan jika tidak ada kegembiraan yang berlebihan maka tidak akan ada kesedihan yang mendalam.
Hubungan antara manusia tidaklah seindah yang dibayangkan;
Tidak ada orang yang berkewajiban memenuhi ekspektasimu.
Alasan kenapa kamu merasa lelah bathin dan menderita dalam hubungan, itu dikarena kamu menyerahkan apa yang kamu inginkan kepada orang lain untuk mewujudkannya.
Teman teman, jika tidak menuntut apa-apa, pasti akan pulang dengan hati yang puas. Kita harus segera sadar dan juga harus ikhlas dalam segala hal
Cara melindungi diri sendiri adalah dengan bersikap:
“Aku sangat menghargaimu, Tapi aku juga tidak takut kehilanganmu”
Terakhir aku ingin katakan:
“Jangan berharap, jangan berandai- andai dan jangan memaksakan.”
Semoga kita semua bisa melihat ke dalam untuk memperbaiki diri.
Mencari kedamaian dalam diri sendiri dan bijak dalam ber-instrospeksi.