Dalam masa Tiga Negara, Guan Yu (160-220AD) adalah tokoh yang bergabung bersama negara Shu, dengan Liu Bei sebagai yang dipertuan, juga sebagai saudara sumpah serta seorang lagi, bernama Zhang Fei. (Sam Kok 1).
Untuk memudahkan bagi yang jarang membaca; tiga negara itu (dan tokoh pimpinan) adalah Negara Wei (Cao Cao), negara Shu (Liu Bei) dan negara Wu (Sun Quan).
Terlahir di daerah Xie, di propinsi ShanXi (sekarang), tidak ada catatan masa kecil nya, kemudian dikenal karena peran sebagai jenderal negara Shu yang perkasa serta cerdas, membuat nya berjaya dalam berbagai pertempuran, banyak jenderal lawan yang gagah binasa di tangannya.

Diantara kisahnya adalah berhasilnya mengawal isteri Liu Bei yang selamat dengan menerobos lima pos pasukan penghadang, dan menewaskan enam jenderalnya.
Ada buah bibir menyatakan, bahwa wajah nya berubah kemerahan saat golok naga bulan sabit ditangan nya akan menebas leher lawan.
Demikian kita kerap melihat lukisan, patung Guan Yu dibuat orang dengan wajah kemerahan.
Keberanian dan kegagahan Guan Yu disegani kawan dan lawan; Cao Cao adalah seorang yang sejak semula menghargai jiwa kepahlawanannya, saat para tokoh masih ber-koalisi, melawan kekuasaan Dong Zhuo (Sam Kok 3).
Kesetiaannya tak hanya disertai keberanian, namun juga sikap kearifan, seperti dalam kejadian pasukan Shu mengalami kekalahan dalam petempuran melawan pasukan Wei, ketika mengundurkan diri, keluarga Liu Bei tertinggal dan tertawan musuh.
Untuk memastikan keselamatan keluarga itu, Guan Yu membiarkan diri ikut tertawan.
Sebagai lawan, Cao Cao tidak menghukum Guan Yu, sebaliknya malah memperlakukan nya dengan baik, begitupun atas keluarga Liu Bei, tidak berkesan bagai di sandera.
Oleh karena nya, selagi bersama Cao Cao, ada sekali Guan Yu membantu membalaskan dendam Cao Cao, memimpin sebagai jenderal menggempur habis pasukan Yuan Shao, menewaskan jenderal Yan Liang (yang terkenal gagah), di BaiMa.
Ini dilakukan Guan Yu sebagai membalas budi atas kebaikan Cao Cao.
Dengan keberhasilan itu, bertambah tambahlah Cao Cao menghargai, dihadiahkan nya Guan Yu dengan harta yang banyak agar tetap berada dipihaknya. Tetapi ketika mereda ketegangan antara dua negara, Guan Yu memilih untuk kembali kepada Liu Bei, segala pemberian ditinggalkan, hanya keluarga Liu Bei yang dibawa serta.
Dengan berat hati Cao Cao membiarkan mereka pergi.
Sekembali Guan Yu ke kubu negara Shu, keadaan diantara ketiga negara tetap dinamis. Saling berebut dominasi, hingga suatu saat kekuatan negara Wei di utara makin besar, dan pertempuran hebat tak terelakan lagi berhadapan dengan negara Shu.
Sebelum berangkat, Guan Yu yang bertugas memimpin pasukan, ber-ikrar bahwasanya ia akan memenangi pertempuran dan menangkap Cao Cao. Diluar dugaan, ZhuGe Liang yang hadir dan turut menentukan strategy menukas: “Anda, tuan Guan Yu, tentu akan beroleh kemenangan, namun menurut perhitungan saya, anda tidak akan menangkap Cao Cao.” Terheran Guan Yu dan semua yang mendengarnya disana.
Dalam pertempuran itu strategy ZhuGe Liang berjalan baik, untuk keunggulan pasukan Shu. Pasukan Wei kocar kacir, Cao Cao terperangkap berhadapan dengan Guan Yu yang bersiap menawannya. Apa yang terjadi? Cao Cao yang tersudut mengingatkan Guan Yu kepada hubungan dimasa lalu: “Tidak dapatkah anda melepas saya sekali ini saja?”
Terpikir betapa tidak bijaksana menawan orang yang telah berbuat baik, hilanglah niat menawan. Walau disadari akan bahaya melepas lawannya itu, tidak urung dibiarkannya Cao Cao pergi. Dan Guan Yu kembali ke kubu dengan masgul, teringat kepada pendapat ZhuGe Liang tadi.
Guan Yu aktif bertempur hingga usia lansia, dengan kekuatan pasukan yang relatif kecil berhasil mempertahankan kota JingZhou 7 tahun lamanya. Hingga, pada saat berseteru melawan pasukan Wei, di FanCheng, tiba-tiba secara sepihak, Sun Quan membatalkan persekutuan Shu-Wu, dengan menyerang dan merebut kota JingZhou.
Perbuatan Sun Quan tidak mengherankan, mengingat lolosnya Liu Bei dari perangkap masa lalu.
Mendengar kabar itu, pasukan Guan Yu patah semangat, penerapan strategy pun kacau dan mengalami kekalahan di FanCheng. Kejadian berakhir tragis, ketika mengundurkan pasukan, Guan Yu tertawan pasukan Wu, dan di-eksekusi oleh Sun Quan.
Kepala Guan Yu dikirimkan kepada Cao Cao sebagai “upeti”, tubuhnya dimakamkan di DangYang, sebagai bangsawan.
Cao Cao mengadakan upacara militer; menghormati sebagai pahlawan, memakamkan kepala Guan Yu di LuoYang, dengan terlebih dulu dilengkapi tubuh, terbuat dari kayu. Sedangkan pihak Shu sendiri membuatkan makam untuk Guan Yu di ChengDu. Dengan demikian, makam Guan Yu terdapat di tiga tempat itu.
Kini, terdapat ribuan kuil pemujaan bagi Guan Yu, temurun puluhan generasi dalam tiga kepercayaan dan agama,. KongHuChu, Taoist dan Buddha, sebagai prajurit pemberani, dewa dan Sangharama Bodhisattva, di berbagai negara.