Dalam abad ke 7, masa awal dynasty Tang, biarawan XuanZang dari kuil JingTu, berniat pergi ke India mencari kitab suci Buddha untuk dibawa pulang ke Tiongkok.
Niatan itu tidak mendapat perkenan kaisar TaiZong, namun berkat bantuan simpatisan, diam-diam XuanZang tetap dapat berangkat dalam tahun 629 dari ibukota ChangAn.
Tercatat sebagai sejarah perjalanan jauh, melintas Kyrgystan, Uzbekistan, Afganistan, Pakistan, untuk tiba di India, dimana XuanZang berziarah tiga belasan tahun mengikuti pendidikan di perguruan tinggi Nalanda, mengunjungi situs Buddha.
XuanZang meninggalkan India tahun 643, tiba kembali di ChangAn tahun 646. Walau kepergian XuanZang merupakan pembangkangan, kaisar TaiZong menyambut pulang nya XuanZang dengan baik.
Dengan dana serta dukungan dari kaisar, XuanZang membangun pagoda Angsa Liar di ChangAn (sekarang XiAn) dan lembaga penerjemah, pendidikan kitab suci Yuhua Gong.
XuanZang meninggal dalam Maret tahun 664, dikenang sebagai pendiri tradisi FaXiang Buddhist.
Adalah kemudian, kisah bersejarah ini me-rakyat dalam beberapa versi yang dirangkum kedalam novel legendaris, diantaranya oleh Wu ChengEn, dalam era dynasty Ming dan kini merupakan Maha Karya Sastra.
Berkat terjemahan cendekia bernama Arthur Waley, cerita yang menarik ini menjadi terkenal di negara berbahasa Inggris.
Kisah Perjalanan ke Barat.
Ketika masyarakat Tiongkok menjalani kehidupan kurang terpuji, Buddha menitahkan GuanYin, mencari seseorang untuk datang ke India mengambil kitab suci, membawanya ke Tiongkok untuk dipelajari dan diterapkan.
Di istana, kaisar TaiZong pernah menderita sakit, pingsan, rohnya berkunjung ke alam akhirat. Kunjungan itu membuat kaisar menjadi lebih bijak, terpikirkan untuk berbuat sesuatu yang lebih ber-kemanusiaan, kerohanian. Lihat Tradisi membakar uang.
Mengetahui bahwa biarawan XuanZang sedang berniat mengambil kitab suci ke India, segera kaisar mendukung dan mengutusnya kesana.
XuanZang dikenal berhati lembut, adalah murid Buddha dalam kehidupan sebelumnya, dengan nama Jangkrik Emas.
Gayung bersambut, GuanYin menunaikan titah, menyampaikan pesan Buddha kepada XuanZang. Juga mengenai Sun WuKung agar menjadi murid pertama dan pengawalnya dalam perjalanan ke barat, beserta gelang kepala dan segala perlengkapan.
Lihat Raja Kera Sakti.
Perjalanan menyusuri jalan sutera, menempuh ketinggian gunung, kedalaman jurang, alam liar dihuni para siluman yang ingin menyantap tubuh XuanZang, yang dipercaya akan memberi kekekalan hidup, para siluman betina yang hendak menikahi agar dapat menyedot energy Yang dari tubuh XuanZang.
Dalam perjalanan, setelah Sun WuKung, berturut-turut Zuan Zang mendapat tambahan pengawal:
Zhu BaJie, kepala angkatan laut surga, yang dibuang ke dunia fana, karena melecehkan dewi bulan, Chang’E. Sebenarnya adalah petarung handal, hanya saja hasratnya sangat besar akan makanan dan perempuan, dan cenderung melalaikan tugas, sehingga sering bersitegang dengan Sun WuKung.
Sha WuJing, si raksasa sungai, jenderal pelindung surga, dibuang ke dunia, karena telah menjatuhkan pecah gelas kristal ibunda ratu dari barat. Sosok pekerja keras yang patuh tanpa reserve.
Bai Long Ma (si Kuda Naga putih), anak ketiga raja naga laut barat, terpidana hukuman mati, karena membakar mutiara gaib ayahnya. Eksekusi ditunda berkat GuanYin, agar ia dapat berbuat jasa bagi pengampunan nya kelak. Menjadi murid keempat sebagai kuda tunggang XuanZang.
Setelah melewati perjuangan, yang beberapa kali hampir merenggut nyawa XuanZang, berhasil kembali ke Tiongkok membawa kitab suci.
XuanZang dan Sun WuKung berhasil mencapai pencerahan Buddha.
Sha WuJing mencapai tingkat Arhat, terbebas dari siklus dilahirkan kembali.
Bai Long Ma kembali kepada kehidupan naga.
Sedang Zhu BaJie, yang tetap selalu tergoda karena keserakahan, menjadi penjaga dan pembersih altar, boleh sebebasnya menghabiskan sisa makanan di altar.