Luput Jebakan Wanita Cantik

Dalam masa Sam Kok, ada dua rangkaian kejadian mengenai jebakan wanita cantik. Yang satu berhasil meruntuhkan kekuasaan Dong Zhuo, dan satunya lagi adalah kisah post ini. Kata pepatah; Lelaki gagah susah melewati pintu wanita cantik. Lalu bagaimana strategy ZhuGe Liang mengatasi jebakan ini?

Sun ShangXiang
Jumlah pembaca, Reader Views: 1,448

Dalam era Sam Kok, dikisahkan dua rangkaian kejadian yang melibatkan wanita cantik sebagai perangkap; Yang satu berhasil dengan kejatuhan Dong Zhuo secara tragis, lihat Sam kok 7 dan Sam Kok 8. Satunya lagi adalah sebagaimana kisah dalam post ini.


Untuk meng-eliminasi satu pesaing dalam perebutan kekuasaan, Sun Quan (pemimpin negara Wu) berniat melenyapkan negara Shu, untuk tujuan itu, oleh penasihat Zhou Yu disusun siasat mengundang Liu Bei ke selatan untuk dijodohkan dengan adik Sun Quan, yang bernama Sun ShangXiang yang terkenal cantik, “demi perdamaian kedua negara”.

Liu Bei, setelah meninggal isteri beberapa waktu, menerima baik, didampingi beberapa staf, berangkatlah ia memenuhi undangan tanpa menyadari siasat dibalik undangan itu.

Sebelum berangkat, ZhuGe Liang memberikan tiga pucuk amplop tertutup kepada staf yang mengikut rombongan, bernama Zhao Yun, untuk membuka amplop satu persatu, sesuai urutan nomor dan petunjuk pada sampul amplop. Perhatikan kemiripan nama.

Setiba disana, Zhao Yun membuka amplop pertama. Sesuai instruksi mereka bersegera mencari kesempatan untuk bertemu, menyalami ibunda Sun Quan, yang ternyata baru saat itu mengetahui ihwal kedatangan Liu Pei. Ibunda yang sangat senang melihat calon menantu, merestui pernikahan dengan puterinya kendati bertautan usia cukup jauh.

Sun ShangXiang
Sun ShangXiang; puteri Sun.

Keadaan dan sikap ibunda yang diluar perkiraan semula, menjadi penghalang untuk melaksanakan siasat Zhou Yu, untuk menghabisi Liu Bei.

Disusunlah siasat lain, bertujuan untuk membuat Liu Bei terlupa dengan tujuan perjuangan, lupa kedua saudara angkat nya; Liu Bei dimanja dengan kehidupan mewah, tempat tinggal nan mentereng, emas permata pun berlimpah. Dia yang hidup sangat sederhana semasa muda, tiadalah niat meninggalkan kemewahan itu, Zhao Yun pun ikut serta, menikmati antara lain kegiatan berburu dan sebagainya, waktu berjalan, jelang akhir tahun.

Tiba-tiba Zhao Yun teringat akan amanat ZhuGe Liang; kiranya ini saat untuk membuka amplop yang kedua. Sesuai instruksi didalamnya disampaikanlah kepada Liu Bei bahwa ada kabar dari ZhuGe Liang mengenai Cao Cao; yang ingin membalas kekalahan dimasa lalu, kini sedang mengirim laskar besar untuk merebut kota JingZhou. Didesaknya pula agar mereka segera berkemas pergi.

Terpikir oleh Liu Bei untuk kembali ke JingZhou, namun berat hati meninggalkan isteri yang sangat dicintai, sehingga penyampaian nya berputar tiada menentu. Namun isteri yang sejak mula sudah mengetahui persoalan, berniat turut serta, hanya saja berkuatir Sun Quan tiada mengizinkan.

Setelah berembuk, disepakati untuk pergi secara diam-diam, dipilihlah hari tahun baru, disaat mana kesibukan perayaan memudahkan untuk menyelinap, setelah terlebih dulu menghadap ibunda yang tentunya merestui puteri nya pergi mendampingi suami. Dan Zhao Yu serta seluruh staf menunggu mereka diluar kota NanXu.

Malam tahun baru dirayakan meriah, banyak yang bermabukan, pada subuh hari itulah Liu Bei dan isteri pergi dengan perbekalan sekedarnya, ke tempat Zhao Yun menunggu, untuk mengawal kereta kuda mereka menuju JingZhou.

Pada jelang sore hari, pelarian mereka terungkap, namun menemui kesulitan melapor, dikarena Sun Quan yang masih mabuk minuman. Setelah terbangun dan tersadari akan keadaan, dalam marah diperintahkannya dua laskar pasukan berkuda, masing-masing dipimpin dua jenderal melakukan pengejaran, siang malam. Bahkan disertakan pedang kuasa untuk membawa pulang kepala adiknya dan Liu Bei.

Walau kereta pelarian dipacu secepatnya, pada malam hari hanya sebentar beristirahat di tepi jalan, pasukan pengejar berhasil mendekat setiba di batas ChaiSang. Sementara, didepan terlihat sepasukan mencegat jalan mereka.
Pasukan pencegat itu ternyata telah beberapa hari berkemah disana, dipersiapkan oleh penasihat Zhou Yu, yang telah memperkirakan pelarian Liu Bei dan jalur perjalanannya.

“Kita terkepung, adakah jalan keluar?” Begitu Liu Bei ber-konsultasi dengan Zhao Yun, yang menjawab: “Tenanglah sejenak, pada saya ada petunjuk untuk mengatasi keadaan genting ini, silahkan membacanya.” Seraya membuka amplop ZhuGe Liang yang ketiga dan menyerahkannya kepada Liu Bei.

Berkat isi amplop ketiga itu, barulah disadari rencana jahat Sun Quan dan Zhou Yu atas diri Liu Bei. Disampaikannyalah hal itu kepada isterinya: “Jadi, kakakku menggunakan aku sebagai umpan? Sungguh dia tidak menganggap aku sebagai adik!” Dengan berang puteri Sun menanggapinya. Diperintahkannya kereta mendekati pasukan pencegat.

Disingkapnya tirai jendela kereta, dihardiknya kedua jenderal pasukan itu, dilecehkan nya Zhou Yu yang memerintahkan pencegatan, sebagai mencampuri urusan keluarga. Keruan saja pasukan itu tak berani menentang, dan membukakan jalan bagi puteri Sun dan rombongan berlalu.

Beberapa saat kemudian, berturut-turut tiba dua pasukan pengejar, berkumpullah tiga pasukan, kembali mereka mengejar. Lagi-lagi, enam jenderal, bahkan dengan pedang kuasa di tangan, tiada cukup keberanian untuk menahan rombongan, terlebih setelah penuturan puteri Sun mengenai restu ibunda suri; Para jenderal saling pandang, bukan kah Sun Quan pun patuh kepada ibunda nya?

Dalam kebingungan, sebagian pasukan kembali melapor kepada Zhou Yu, yang lainnya membuntuti rombongan dari kejauhan. Sementara itu Liu Bei berpisah dari rombongan berjalan menyusuri sungai.
Menunggu cukup lama, Zhao Yun dan rombongan pun telah menysul, mencapai tepian sungai, tak juga menemukan perahu. Di kejauhan terlihat pasukan pengejar mendekati.

Ditengah keputus-asaan, terlihat sederet puluhan kapal mendatangi. “Semoga saja ini hal baik keberuntungan kita.” berkata Zhao Yun. Bergegas, nekad, mereka naik ke kapal yang ternyata didalamnya berpenumpang tentara. Kemudian terlihat seorang diantara nya berpakaian guru Tao.
Itulah ZhuGe Liang, menyambut: “Selamat datang tuan, kami lama menantikan anda.”

Berlayarlah mereka pergi, kepada pasukan pengejar ZhuGe Liang berkata: “Sampaikan kepada Zhou Yu, agar tidak lagi melakukan tipuan dengan wanita.”

Lelaki gagah susah melewati pintu wanita cantik.

Pepatah Tionghoa