Potehi, adalah Wayang.

Dalam abad 17, propinsi HokKian, 5 terpidana hukuman berat yang menghibur diri di dalam sel, memainkan wayang terbuat dari kain perca, dengan kentongan berbagai peralatan makan sebagai iringan musik, menjadi atraksi, menarik perhatian raja yang kebetulan melihatnya.

Potehi
Jumlah pembaca, Reader Views: 407

Dalam abad 17, di propinsi HokKian, adalah 5 terpidana hukuman berat, menghibur diri di dalam sel, memainkan wayang terbuat dari kain perca, diiringi kentongan mangkuk, piring, sebagai musik nya.

Permainan musik itu terdengar raja, yang lalu tertarik untuk juga melihat pertunjukan wayangnya. Raja mengagumi permainan wayang itu, sebagai imbalan membebaskan ke 5 kreator wayang itu dari hukuman.

Wayang Kantong.

Ada versi lain temuan wayang serupa, dalam waktu bersamaan di propinsi yang sama. Tetapi baiknya mari menilik mengenai wayang itu.

PotehiPotehi, wayang  berbahan kain perca 布 袋 戲  (dialek HokKian, Po = kain, Te = kantong, Hi = wayang/tayangan).
Kepala terbuat dari kayu, atau bubur kertas, tanah liat.

Cara memainkannya sederhana, yaitu memasukkan telapak tangan kedalam kantong (tubuh wayang) bagai sarung tangan (glove), sedang jari-jari tangan berfungsi untuk menggerakkan kedua tangan dan kepala wayang.

Dari namanya wayang perca terkesan me-rakyat. Tetapi setiap wayang dibuat unik sebagai individu yang membawakan peran tokoh yang dilakoni dalam cerita pertunjukan; wajah nya, corak kostume, aksesori tutup kepala, sepatu, kipas, senjata dan sebagainya.
Juga perlengkapan seperti dekorasi, furniture meja kursi dan lain-lain.

Yang menambah menarik pegelaran Potehi adalah gaya memainkan, “menghidupkan” karakter yang dilakonkan, saat ber-dialog, saat berkasih-kasihan, bertempur, dengan selingan musik tradisional.

Tak jarang adegan menampilkan beberapa wayang saat bersamaan, oleh tangan kanan dan kiri beberapa pemain, diperlukan penguasaan jalan cerita, dialog, dan kerja sama.

Pegelaran panggung Potehi.

Abad berikutnya, penayangan Potehi telah menyebar ke banyak negara, terutama Asia timur dan tenggara. Cerita klasik asal Tiongkok yang dahulu dimainkan dalam bahasa Mandarin, telah dimainkan dalam bahasa setempat.

Biasanya pergelaran wayang diadakan pada hari raya penanggalan imlek tertentu, atau sebagai perayaan festival di kuil, untuk pengumpulan dana bantuan sosial dan lain lain. Tentu banyak dari kita yang pernah menyaksikan pegelarannya, bahkan ada yang tekun menyaksikan hingga jauh malam.

 

error: Content is protected !!