Sebagai penganut, kita tentu mempelajari ajaran agama, guna menemukan kebenaran, demi mendapat jawab mengenai kehidupan dan derita dunia, harapan akan perbaikan, kematian, kehidupan sesudah kematian, penguasa alam semesta dan sebagainya.
Pertanyaan besar, apakah kita sudah menemukan kebenaran itu? Apakah kita telah mendapat jawab mengenai hal diatas tadi?
Jikalau belum, kemana lagi kita akan mencari?
Kalau ini yang kita pertanyakan, kita tidaklah sendirian, karena telah lama orang mencari dan mencari.
Insert, Bill Preston menyanyikan lagu
My Lord, (bersama Eric Clapton, Paul Mc Cartney, Procol Harum, cs) dalam concert tribute untuk George Harison. Dapat di simak di youtube.
Di dalam Lyrics antara lain, My sweet Lord, Hallelujah, Hare Krishna, Hare Rama, Guru Rama, Guru Vishnu, Guru Devo, Mahezvaras, Para Brahma, Tasmai Sra…
Apakah Omnist itu?
Apakah kebenaran hanya ada pada agama kita saja?
Pada agama lain yang banyak penganut tentu juga ada kebenaran, kalau tidak, tentunya tidak ada penganut sedemikian jumlahnya.
Ini pertanyaan dan pernyataan yang objektif, membawa orang mencari kebenaran pada agama lain, mengarah kepada omnist.
Omnist adalah seorang yang melihat dan percaya bahwa kebenaran tidak melulu hanya pada satu agama saja.
Melainkan, bahwa setiap agama membawa bagian kebenaran nya masing-masing. Dan Kebenaran sejati adalah gabungan kebenaran pada berbagai agama.
Omnism adalah falsafah, bahwa: “Kebenaran dalam suatu agama tidak lebih benar dari pada kebenaran dalam agama yang lain.” Dengan kata lain tidak ada ajaran agama yang paling benar.
Bahwa suatu hal (atau hal-hal) yang tidak terjawab dalam suatu ajaran agama, terjawab dalam agama yang lain.
Demikianlah, bahwa seorang Omnist adalah yang menganut lebih daripada satu agama, dan selalu terbuka bagi ajaran agama lain. Keterbukaan terhadap keyakinan agama lain menjadi daya tarik bagi banyak orang.
Omnism sudah sejak lama.
Sebutan Omnist dan Omnism pertama dipergunakan Philip James Bailey, dalam tahun 1839, dengan puisi epik nya berjudul; “I am an omnist, and believe in all religions”.
Terjemahan bebasnya: “Saya seorang omnist, dan percaya semua agama.”
Namun sesungguhnya omnism sudah ada berabad lalu, bahkan sebelum Masehi, hanya saja terjadi pada agama yang bukan eksklusif, khususnya di Asia, sehingga tidak timbul permasalahan, tiada yang mempersoalkan.
Antara lain, Buddhist yang juga adalah penganut Shinto di Jepang. Ajaran Buddhist yang menyatu dengan Kong Hu Chu dan Tao di Vietnam, Tiongkok, dan Asia timur lain.
India dengan berbagai agama tradisional, Ramakrishna dan Swami Vivekananda, di Asia barat dengan keyakinan Baháʼí dan keyakinan tradisional lain. Begitu juga kepercayaan tradisional di Yunani, Romawi dan sebagainya
Persoalan timbul kepermukaan dengan datangnya agama yang eksklusif yaitu Katholik, Kristen dan Islam, yang tidak memperkenankan penganut memeluk agama lain.
Apakah penganut agama ini tiada yang menjadi omnist? Sepertinya tidak begitu. Karena ada orang Katholik menghadiri kebaktian gereja lain. Ada orang kristen yang mengikuti ajaran Hindu untuk mendapat ketenangan bathin, juga ajaran meditasi Buddha.
Menghadapi keadaan, kini ada Unitarian Universalism, sebuah aliran yang berakar pada Universalisme Kristen, beroperasi dengan cara yang mirip dengan omnism.
Omnism ada, bahkan mungkin berkembang (karena sulit mencacah nya), kendati tidak ada tempat ibadat yang khusus, juga tidak ada literatur untuk omnism.