Diantara banyak pahlawan yang meneladankan kesetiaan, adalah Yue Fei, masa dynasty Song. Dinamakan Fei 飛 yang berarti terbang; saat lahir, seekor burung besar, DaPeng, melintas rumah sambil berkokok.
Terlahir di daerah TangYin, propinsi Hunan (1103 – 1142M). Keluarga sederhana, namun ayahnya mengerjakan tanah miliknya untuk kegiatan kemanusiaan. Kala dilanda banjir, ibunya mengapungkan Fei yang masih balita dalam sebuah ember (kisah yang terkenal). Sekeluarga selamat, namun kehilangan tanah garapan yang tak jelas lagi lokasinya.
Demi kelangsungan hidup, kemudian ayahnya mengerjakan tanah sewaan. Fei yang belum dewasa turut bekerja. Selama itu, Fei mendapat pendidikan dari ayahnya, tiada lagi kesempatan ke sekolah.
Dalam masa susah itu Fei dan ibu nya mendapat kebaikan dari pejabat, dan menjadi pembantu di rumahnya.
Disana, ia beroleh latihan kemiliteran
dari guru Zhou Tong, yang telah lebih
dulu mempunyai tiga orang murid.
Dari keempat murid itu yang menjadi saudara angkat, Fei adalah yang terpandai dalam strategi perang, dalam memanah dan mempergunakan delapan belas jenis senjata.
Kesetiaan Fei.
Beberapa tahun berlatih, guru membawa keempat murid mengikuti seleksi penerimaan tentara di daerah TangYin. Keempat mereka lulus dengan sangat baik, Fei meraih angka tertinggi, hingga dijodohkan dengan puteri sahabat guru Zhou Tong.
Tidak lama setelah itu guru Zhou Tong meninggal. Fei yang sangat bersedih pun berniat mengorbankan diri dihadapan makam.
Melihat itu, ayahnya menghargai, dan berkata: “Niat yang baik tetapi carilah pula waktu untuk berkorban di dalam tugas untuk kekaisaran dan negara.”
Atas dorongan ayahnya itu Fei mengikuti tugas ketentaraan mulai tahun 1122M, selama beberapa tahun.
Tatoo, Setia Membela Negara.
Bebas bertugas, Fei pulang kepada keluarga. Tak lama kemudian terjadi serangan deras dari utara dan berhasil menawan kaisar dan keluarga. Atas panggilan bertugas Fei lebih memilih merawat ibu yang lansia, sedang ayah telah lama meninggal.
Melihat hal ini ibu ber-inisiatif menera tatoo pada punggung Fei; 精 忠 报 国 yang berarti setia membela negara. Mulai dengan menulis aksara lalu dicucuk-cucuk aksara itu. Luka dipunggung disiram tinta bercampur cuka, hingga aksara tidak lekang selamanya.
Pergilah Fei dengan mantap hati, memenuhi pesan ibu serta membela negara. Mengenai tatoo ini menjadi buah bibir masyarakat sampai saat ini.
Beberapa tahun berjalan pasukan Fei berhasil mengenyahkan pasukan lawan yang jauh berlipat besarnya, dan mendirikan dynasty Song selatan, atas dynasty sebelumnya yang sempat jatuh.
Satu persatu pemberontakan pun diatasi dengan arif; menghindarkan jatuhnya banyak korban.
Fei berhasil membujuk kaisar, mengurungkan perintah membunuh semua lelaki di kota yang terjadi pemberontakan, dan hanya menghukum yang bersalah.
Penduduk kota sangat berterima kasih. Jenderal Fei yang telah dikenal ramah penduduk makin disukai masyarakat.
Ulah penghianatan.
Pencapaian demi pencapaian Fei mendatangkan rasa iri dan kekuatiran kalangan istana kalau-kalau dukungan masyarakat atas Fei menjadi ancaman. Karena nya, dipanggillah Fei menghadap ke istana, walau keadaan keamanan masih kritis di pos nya.
Di dalam perjalanan pulang singgah bermalam di sebuah kuil tua, ditengah hujan lebat, bersembahyang, mengocok dan mendapat CiamSi (petunjuk spiritual), yang berbunyi: “Langit yang menangis menandakan petaka.”
Namun Fei tetap setia melanjutkan perjalanan pagi hari nya menuju ibu kota.
Setiba di istana, Fei langsung dilucuti segala kuasa serta atribut, dijebloskan ke penjara atas tuduhan yang serba tak jelas. Kaisar terhasut oleh kanselir bernama Qin Hui (dialek HokKian: Qin Kuai) yang sangat berkuasa pada waktu itu.
Atas perintah isteri Qin Kuai, kemudian Fei diracun dalam tahanan. Ada pula pendapat, bahwa Yue Fei dipenggal
Fakta terkuak, warga mengetahui kejahatan, penghianatan, Qin Kuai dan Isteri. Sebagai memperingati, dibuatkan patung sepasang suami isteri itu; berlutut dihadapan makam Yue Fei, meminta pengampunan. Warga yang lewat disana turut menghukum, ada yang menampar wajah, meludahi juga ada yang mengencingi.

Di Indonesia, Malaysia dan Singapura ada penganan terkenal, yang terbuat dari adonan terigu, bentuk sepasang selonjoran, sebagai simbolis Qin Kuai dan isterinya.
Sepasang selonjoran itu, diberi nama ChaKuai (menggoreng Kuai), sebagai menghukum atas penghianatan nya. Sehari-hari kita mengenalnya sebagai Chakwe. Kita semua suka ChaKwe kan?