Awal masa Sam Kok 2

Untuk penghianat tersedia paket, lidah dipotong terlebih dulu, agar tak dapat berteriak saat dilakukan pengutungan anggota tubuh dan pencongkelan bola mata dalam keadaan sadar.
Penyiksaan biasa dilakukan dalam perjamuan sebagai hiburan mengantar Dong Zhuo bersantap.

Dong zhuo
Jumlah pembaca, Reader Views: 33,381

Dong Zhuo mengagumi kegagahan Lu Bu. Risau hatinya; berkuatir Lu Bu akan menjadi penghalang baginya untuk meraih kekuasaan. Li Su, yang berasal sekampung dengan Lu Bu, mengajukan diri untuk membujuk Lu Bu agar berpihak kepada mereka.
“Dengan membawakan barang berharga, sutera dan kuda kelinci merah milik paduka, saya akan membujuk Lu Bu membelot.” 

Dong Zhuo merebut kekuasaan.

Dong Zhuo menerima baik usul Li Su; dengan berat hati ia merelakan kuda sembrani kesayangannya demi kekuasaan negara. Pada malam hari, Li Su mengunjungi Lu Bu di perkemahannya, membawa banyak hadiah. Setelah basa basi dua teman sekampung, sambil menikmati anggur, Li Su menjalankan misi nya dengan efektif.

Seperginya Li Su, pada malam itu juga Lu Bu mendatangi kemah ayah angkatnya dan membunuhnya. Ia lalu memaklumkan kematian Ding Yuan dihadapan pasukan. Lebih dari separuh jumlah pasukan meninggalkannya.  

Lu Bu Menunggang kelinci merahKeesokan pagi, Lu Bu dengan sisa pasukannya menghadap Dong Zhuo dengan membawa kepala Ding Yuan. Mereka diterima dengan hangat oleh Dong Zhuo yang menyambut dengan gembira. Lu Bu saat itu juga dijadikan anak angkatnya.

Dong Zhuo mulai bersewenangan, ia menurun kan kaisar Shao dari tahta, menaikkan Liu Xie sebagai gantinya, dengan gelar kaisar Xian, dalam tahun 190 AD.
Bersamaan waktu, ia mengangkat diri nya sebagai perdana menteri. Semua suara mereka yang menentang termasuk Yuan Shao, tidak digubrisnya.

Arogansi Dong Zhuo tidak kepalang; ia menjadi satu-satunya orang yang masuk istana yang membawa pedang, menghadiri sidang tanpa melepas alas kaki, mempermainkan dayang istana, tidur di tempat tidur kaisar pula.

Dalam bulan Maret 190 AD, mantan kaisar Shao dan ibusuri He dibunuh atas perintah nya. Untuk menyejukkan hati Yuan Shao yang memiliki pengaruh politik cukup kuat, ia mendesak kaisar agar mengangkat Yuan Shao sebagai pemimpin agung Bohai, namun pengangkatan mana tidak dipedulikan Yuan Shao.

Sementara itu, kekuatan gabungan pejabat dan panglima berbagai wilayah, terhimpun dibawah pimpinan Yuan Shao, menentang otoriter Dong Zhuo. Diantaranya yang ikut bergabung adalah SunJian dengan pasukan 30.000 personil, yang dipromosi Yuan Shu menjadi jenderal pimpinan pasukan perintis.

Pasukan Dong Zhuo menahan serangan pasukan gabungan dan pada saat bersamaan menantunya membangun perbentengan yang kuat, di wilayah Mei, Bao Ji, berdekatan dengan Chang An dengan sediaan bahan makanan untuk 30 tahun.

Yuan Shao dan bala tentara gabunganUntuk membuat pihak lawan gentar, Dong Zhuo mengirim pasukan keluar ibu kota saat malam buta agar tidak terlihat. Pasukan kembali lagi di siang hari, dengan begitu terlihat bagaikan kedatangan pasukan tambahan.

Siasat nya berhasil membuat lawan berhati hati, dengan demikian Dong Zhuo mendapat banyak waktu untuk menyusun rencana, bahkan sempat memindahkan penghuni dari istana LuoYang, ke istana ChangAn.

Sebelum pergi dari Luo Yang, ia memerintahkan penggalian penjarahan makam kaisar dan merampok harta warga yang kaya, membakar habis istana Luo Yang sehingga tak ada yang tersisa bagi pihak lawan.

Kelemahan pasukan gabungan.

Kekuatan gabungan menyadari bahwa mereka tidak mampu menjatuhkan Dong Zhuo, tanpa usaha persatuan, namun tidak urung terjadi konflik diikuti perpecahan diantara mereka. Selain itu, semangat anggota pasukan tidak mendukung, mereka sangat takut tertawan oleh pasukan Dong Zhuo.

Selain bertindak sewenang-wenang, kekejaman Dong Zhuo pun tak terkirakan. Musuh yang tertawan dibakar hidup-hidup, api dinyalakan diatas tanah, membakar mulai kaki merambat keatas, teriakan serta ekspresi kesakitan sangat disukai Dong Zhuo.

Untuk penghianat tersedia paket penyiksaan; lidah dipotong lebih dulu agar tak dapat berteriak selagi dilakukan pengutungan anggota tubuh atau pencongkelan bola mata. Diperlukan keahlian menyiksa, agar tawanan tetap dalam keadaan sadar. Sesudah itu diceburkan ke dalam minyak mendidih.

Penyiksaan biasa dilakukan dalam perjamuan, sebagai hiburan Dong Zhuo bersantap. Masa kekuasaan Dong Zhuo mengambil korban jiwa tak terbilang. Lawan politik, serta keluarga para pemimpin gerakan penentangnya dihabisi, juga keluarga Yuan Shao dan Yuan Shu.

Banyak pegawai negara dituduh sekenanya untuk dieksekusi, juga rakyat awam diculik dan dibunuh. Dong Zhuo menjadi tokoh sangat dibenci, namun dipuja bagai dewa oleh laskar bersenjata dari propinsi Liang, tempat asal Dong Zhuo.

Tirani Dong ZhuoDiluar agenda menjarah, membunuh, membakar, si tirani merusak tatanan perekonomian, antara lain mendanai pembangunan perbentengan di Mei dengan uang leburan patung dan lonceng.
Pencetakan uang cara besar-besaran demikian tentulah berakibat kepada meningginya inflasi.

Dilain pihak, pemimpin dan panglima koalisi menghadapi masalah internal mereka yang rumit dikarena setiap pimpinan mendahulukan kepentingan masing-masing, satu sama lain menjadi saling bercuriga.

Keberhasilan yang satu, menimbulkan rasa dengki yang lain; saling menjegal, memperlambat kiriman ransum (bahan makanan) tentara, bahkan penyergapan gelap terhadap kesatuan lain. Koordinasi kerja sama pun sangat lemah.

Membawahi para panglima dan penguasa, memerlukan ketrampilan memimpin, hal ini tidak ditunjukkan Yuan Shao, sebagai pemimpin koalisi. Paling tidak, begitulah keluhan Sun Jian dan Cao Cao yang merupakan bagian dari kekuatan gabungan, termasuk juga tulisan Gong SunZan didalam suratnya kepada Liu Bei.

Prestasi kekuatan koalisi adalah menduduki kota Luo Yang dan beberapa wilayah yang sudah hancur berupa puing. Setelah itu, praktis tak terdengar kegiatannya. Kedudukan Dong Zhuo tetap tidak tergoyah, hingga kemudian Wang Yun, menteri protokol istana, berhasil dengan upaya nya mendorong Lu Bu mengenyahkan Dong Zhuo.

Akhir riwayat kekuasaan Dong Zhuo.

Di suatu pagi, Dong Zhuo akan menghadiri acara istana dengan diiringi belasan orang kepercayaan dengan dipimpin Li Su. Rombongan itu berpapasan dengan Lu Bu di pintu gerbang. Disaat Lu Bu menyalaminya, Li Su melangkah dan menikam tubuh Dong Zhuo dengan pisau. Dalam keadaan terluka Dong Zhuo meminta bantuan Lu Bu

Lu Bu lekas menghampirinya, dengan sekali tebas Lu Bu menghabisi nyawa Dong Zhuo terjadi 22 Mei 192 AD.  Ini adalah kali kedua Lu Bu membunuh ayah angkatnya setelah yang pertama adalah Ding Yuan.

Akhir riwayat Dong ZhuoJenazah Dong Zhuo diletakkan diatas jalan, sehingga dapat disaksikan oleh seluruh warga. Untuk penerangan, dibuatkan nyala api dengan sebuah sumbu menancap ke dalam perut buncit Dong Zhuo. Lemak di tubuh tambun menjadi bahan bakarnya.
Jenazah dijaga dengan pengawalan ketat, disertai peringatan hukuman terhadap siapa yang membawanya pergi.

Seluruh keluarga Dong pun menyusul di eksekusi, termasuk ibunda nya, berusia 90 tahun, menjalani eksekusi di tengah teriak meminta pengampunan. Semua pengikut setia Dong Zhuo menyembunyikan diri, melihat tipisnya harapan mendapat pengampunan.

Setelah Dong Zhuo tiada, menteri Wang Yun mengendali pemerintahan dan kegiatan istana. Sampai disini, terlihat harapan akan tegaknya kembali dynasty Han, kalau saja pengikut setia Dong Zhuo dapat segera dilenyapkan.
Akan tetapi mereka dibantu laskar dari propinsi Liang, berdekatan dengan ChangAn, mendapat kesempatan menyerang istana secara berbareng dari dalam dan luar.

Lu Bu yang berusaha keras menahan, kewalahan menghadapi serangan dari berbagai penjuru. Sebelum terpaksa meninggalkan ibukota, Lu Bu meneriakan, agar Wang Yun turut bersamanya. Wang Yun menolak ikut serta karena tak sampai hati meninggalkan kaisar Xian. ChangAn dan istana jatuh ke dalam penguasaan pengikut Dong Zhuo, dan berakhirlah riwayat Wang Yun beserta seisi keluarganya.

Bersambung dan lebih detail dalam kisah Sam Kok.