Perjalanan ke Tanah Terjanji.

Perjalanan menuju tanah yang dijanjikan penuh sikap ketidak- taatan kepada Tuhan, bersungut saat mengalami kekurangan, tiada sabar menunggu janji-Nya, bahkan sikap membangkang yang membangkitkan murka-Nya. Perjalanan itu, kiranya juga menggambarkan perjalanan hidup kita di dunia ini, sebelum mencapai sorga, yang juga dijanjikan Tuhan kepada kita.

Setelah menerima firman Tuhan, Musa menuruni gunung, membawa dua loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah Allah.  Apa yang didapati; bangsa Israel sedang melakukan pemujaan kepada sebentuk anak lembu terbuat dari emas, ramai riang, mereka sedang mempersembahkan korban bakaran, yang duduk, menari, makan, minum, bersukaria.

Rupanya mereka yang tidak sabar menunggu kembalinya Musa telah mendesak Harun agar dibolehkan membuat altar pemujaan. Mereka mengumpulkan perhiasan yang ada pada mereka, emas dilebur, dipahat menjadi bentuk anak lembu dan diletakkan di atas altar untuk disembah sebagai allah mereka.

Hukuman atas penyembahan berhala anak lembu emas.

Betapa gusar Musa menyaksikan semua itu bahwa begitu ringan dan cepatnya mereka berpaling dari Allah, telah kembali kepada penyembahan berhala. Dalam amarahnya, dilemparnya kedua belah batu yang berisi Sepuluh Perintah Allah tulisan jari-Nya dan pecahlah batu itu. Ditegurnya keras Harun yang memperkenankan semua itu terjadi.

Musa merusak anak lembu emas itu, untuk dibakar dan digiling sampai menjadi bubuk, ditabur ke atas air sebagai minuman untuk orang Israel.
Menyadari dosa yang telah diperbuat, bani Lewi menjalankan petunjuk Musa, dengan pedang terhunus yang terikat di pinggang masing-masing, mereka berjalan hilir mudik sehingga saling melukai, berakhir dengan tiga ribu orang Israel tewas. Disusul dengan membayar jiwa anak laki-laki dan saudara mereka sebagai bakti kepada Tuhan.

Keesokan hari, Tuhan mengabulkan permintaan Musa untuk menangguhkan hukuman. Hanya saja, kemudian perjalanan menuju tanah yang dijanjikan tiada lagi dengan Allah ditengah mereka, sebagai ganti kehadiran-Nya, adalah malaikat utusan yang berjalan di depan.

Alasan diperbuat demikian agar kegeraman Tuhan tidak sampai membinasakan semua mereka di tengah perjalanan. Atas ancaman mengerikan itu, sepanjang perjalanan dari gunung Horeb, mereka tertunduk dan tiada seorang mengenakan perhiasan, berharap sikap mereka dapat meredakan murka Tuhan.

Kendati demikian, Musa mendirikan kemah sebagai tempat pertemuan dengan Tuhan, letaknya berjauhan dari perkemahan mereka. Setiap kali Musa masuk ke dalam kemah, tak lama berselang, tiang awan turun dan berhenti di pintu kemah itu. Semua kejadian diikuti pandang mereka, yang bersembah sujud di depan pintu kemah masing-masing. Usai pertemuan, Musa kembali ke kemahnya, sedang Yosua bin Nun, abdi Musa, tetap tinggal disana.

Menulis ulang perintah di atas batu.

Gunung Sinai

Mentaati perintahNya, Musa memahat lagi loh batu, seukuran dengan batu yang telah pecah dilemparnya. Tuhan berkenan untuk menulis ulang perintahNya.
Sebagaimana waktu sebelumnya, di subuh hari, Musa menaiki gunung Sinai membawa batu itu dan selagi menyambut kedatangan Nya, Musa memintakan lagi pengampunan bagi bangsa Israel.

Diatas gunung, Tuhan berfirman, akan janji menghalau musuh mereka, perintah untuk merubuhkan tugu berhala, prihal perayaan paskah, korban bakaran, korban selamatan, mezbah, Sabat, perpuluhan, dan lain lain.
Empat puluh hari empat puluh malam lamanya Musa bersama Tuhan tanpa makan dan minum.

Musa turun dari atas gunung, dengan membawa kedua loh hukum Allah di tangannya. Wajahnya bercahaya karena telah berbicara dengan Tuhan. Cahaya wajah itu membuat takut orang Israel yang melihatnya, karena itu Musa menyelubungi wajahnya setiap kali terpancar cahayanya. Hanya waktu menghadap Tuhan saja selubung itu ditanggalkan.

Musa menyampaikan segala firman dan perintah untuk dilaksanakan mulai pembuatan tempat kudus, kemah suci dan segala perlengkapannya, sampai pakaian jabatan, untuk dikenakan dalam kebaktian di tempat kudus, juga pakaian kudus bagi Harun. Semua di kerjakan seturut petunjukNya.

Lalu awan menutupi kemah pertemuan, kemuliaan Tuhan diatas kemah itu. Dan Tuhan kembali memimpin perjalanan bangsa Israel; bilamana awan naik ke atas kemah suci, berangkatlah mereka dari tempat berkemah. Di malam hari, dalam kemah terdapat api menyala, terlihat oleh setiap orang dari kemah masing-masing.

Mempersiapkan laskar dan strategi pasukan Israel.

Kemah suciDalam pertemuan lanjut, Tuhan berfirman, mengenai keimaman (dalam kitab imamat) serta perwalian mengepalai dua belas suku bangsa untuk mendampingi Musa. Mereka mengadakan sensus dan merekrut tentara, membentuk pasukan, atas laki-laki berusia dua puluh tahun keatas dan mampu untuk berperang, dibawah pimpinan kepala suku.

Sensus dilakukan oleh Musa dan Harun, di padang gurun Sinai; anggota pasukan dari dua belas suku, berjumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh. Orang Lewi dan orang Kehat, adalah suku yang menurut bapa leluhurnya, oleh sebab itu tidak termasuk diantara dua belas suku; mereka ditugaskan mengurus kemah suci serta perlengkapan, membongkar dan memasangnya. Untuk tugas itu, kemah mereka berposisi mengelilingi kemah suci, tempat hukum Tuhan.

Formasi perkemahan kedua belas suku berlokasi agak jauh dari kemah suci, pengaturan mana dimaksudkan juga sebagai strategi pertahanan. Di dalam perjalanan, kemah suci dikelilingi laskar orang Lewi ditengah-tengah dua belas laskar lainnya. Pendisiplinanpun ditegakkan, dengan Harun sebagai imamnya.

Tuhan menyikap kerakusan, takut dan ketidak percayaan kepadaNya.

Akan tetapi banyak yang terpengaruh provokasi antara mereka sendiri, selalu terdapat sikap bersungut dikala merasa berkekurangan. Hingga sekali bangkitlah murka-Nya, api Tuhan menyala merambat pada tepian perkemahan mereka. Api padam setelah Musa berdoa kepada-Nya ditengah jeritan teriak mereka yang ketakutan. Bil11:1

Tidak jarang Musa mengalami kesulitan ‘menengahi’, suatu kali mengalami puncaknya, ber frustrasi. Tuhan menolong Musa, dengan membagi beban rasa tanggung jawab ke atas tujuh puluh para tetua Israel. Segera Tuhan memenuhi janji akan daging, sejumlah besar burung puyuh di laut ditiup angin dan dihamburkan ke atas perkemahan mereka. dalam sebulan, setiap hari mereka mendapat daging. Bil 11:4,11,31,32

Perintah Tuhan agar hendaknya memakan secukupnya saja tiada diindahkan, burung-burung itu ditimbun disekitar perkemahan, bangkitlah murka Tuhan atas keserakahan itu, dijatuhkan-Nya tulah atas mereka yang dikuasai nafsu, banyaklah yang tewas, dan dimakamkan di Kilbrot-Taawa.

Saat di Hazerot, Musa mengambil seorang perempuan Kush sebagai isteri. Adik Musa, bernama Miryam, mempertanyakan sikap saudaranya dan perkenaan Tuhan akan hal itu. Untuk itu Miryam dikenakan hukuman, menderita penyakit kusta selama satu minggu lamanya. Setelah Miryam pulih, barulah mereka berangkat dari Hazerot menuju padang gurun Paran.

Dari pegunungan tanah Negeb mereka mengamati keadaan Kanaan. Karena takut akan berperang, kembali mereka menista-Nya, mempertanyakan sekiranya Tuhan memang menghendaki kematian mereka di ujung pedang, karena itu mereka berniat menunjuk pemimpin baru agar membawa mereka kembali ke Mesir. Keadaan itu membangkitkan murka-Nya. Bil 14:3,4,22-27

Menjelang akhir perjalanan ke tanah terjanji.

Pengintai yang dikirim untuk menyelidik keadaan Kanaan kembali dengan laporan yang menyesatkan bahwa tempat itu busuk, bersungutlah orang Israel mendengarnya. Untuk perbuatan itu si pengintai terkena tulah dan mati dihadapan Tuhan. Yosua bin Nun dan Kaleb bin Nefune tinggal hidup karena mereka membawa kabar yang benar mengenai Kanaan. Bil 14:36-39

Melihat betapa kesungguhan Tuhan, di pagi hari, sebagian dari mereka bertekad maju menyerbu ke tanah yang dijanjikan tanpa penyertaan-Nya, tanpa dapat dicegah Musa. Dan porak porandalah mereka diserang orang Amalek dan orang Kanaan, dan terpaksa mundur hingga ke Horma.

Dalam pada itu, Korah, Datam dan Abiram, tiga tokoh memimpin dua ratus lima puluh orang Israel untuk membangkang. Mereka berakhir tragis, ditelan bumi bersama seisi keluarga. Tanah ditempat mereka bersama keluarga berkemah terbelah, dan menelan semua hidup-hidup. Masih berlanjut tulah, menelan jiwa empat belas ribu tujuh ratus orang Israel lain yang bersikap melawan.

Pada akhir perjalanan, dengan penyertaan Tuhan, bangsa itu dipimpin Yosua bin Nun menyeberang sungai Yordan yang terlebih dulu telah dikeringkan-Nya. Tibalah bangsa Israel di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang mereka.

Musa dan Harun tak sempat menginjakkan kaki kesana. Harun meninggal ketika masih di sekitar gunung Hor. Musa sendiri hanya berkesempatan memandang tanah Kanaan dikejauhan, dekat tanah Moab, dimana Musa kemudian meninggal.

Demikian kisah perjalanan menuju ke tanah yang dijanjikanNya. Dapatkah diibaratkan perjalanan hidup di dunia sebelum mencapai sorga, tempat yang juga dijanjikan Tuhan kepada umatNya?